DARI BARTER, RIBA SAMPAI INFLASI! TERNYATA INILAH SEJARAHNYA UANG MUNCUL SEBAGAI ALAT PEMBAYARAN!

Kali ini kita akan membahas tentang asal-usul kemunculan uang yang menjadi alat pembayaran sah dimasyarakat saat ini. Bagaimana uang bisa tercipta? Kenapa manusia butuh uang? Dsb. Hampir semua orang tau bahwa pada zaman dahulu kala, nenek moyang kita melakukan transaksi dengan menggunakan barter, namun kenapa sekarang malah muncul uang? Perlu kita ketahui bahwa sampai sekarangpun sebenarnya kita masih melakukan barter kok. Hanya saja objek yang digunakan berbeda. Yaitu kita menukarkan uang dengan barang yang kita inginkan. Oke tanpa berlama-lama lagi, yuk langsung aja kita simak videona folks!

 

Asal Mula Barter

Pada awal peradaban manusia, kita tidak tahu yang namanya uang, apalagi butuh. Kenapa? Karena kita mampu memenuhi kebutuhan kita sendiri mulai dari kebutuhan pokok seperti makanan, pakaian, dan tempat tinggal. Karena kebutuhan manusia zaman dulu tidaklah banyak, ditambah jumlah barang yang ada ya hanya itu-itu saja.

Seiring perkembangan waktu, kebutuhan manusia semakin meningkat dan manusia semakin pintar. Setiap orang memiliki barang yang berbeda satu dengan yang lainnya. Misalnya, ada yang bisa berburu mereka memiliki daging, dan yang bercocok tanam memiliki sayuran. Disinilah awal mula barter tercipta. Mereka berusaha mendapatkan barang yang mereka butuhkan dengan menukarkan barang yang mereka miliki satu sama lain.

Awalnya semua berjalan baik sampai ada saat dimana tidak semua orang mau menukarkan barang mereka dengan orang lain. Seperti contohnya, seseorang yang sedang membutuhkan daging, ingin menukarkan sayuran yang ia miliki dengan kerabatnya, namun sang kerabat tersebut tidak sedang membutuhkan sayuran. Alhasil, transaksi menggunakan barter mengalami banyak sekali masalah.

 

Garam

Dengan timbulnya masalah pada sistem barter, membuat manusia harus memikirkan cara yang lebih baik untuk bertransaksi. Bangsa Romawi akhirnya memutuskan bahwa barang yang bisa ditukar adalah barang yang langka atau bernilai tinggi dan sulit didapatkan. GARAM adalah solusinya. Pada saat itu, garam merupakan komoditas yang sangat bernilai tinggi dan dibutuhkan manusia. Sampai-sampai kata salary dalam bahasa Inggris yang berarti upah diambil dari bahasa Latin salarium yang berarti garam.

Dalam perjalanannya, masalah mulai muncul. Garam tidak dapat disimpan terlalu lama karena akan rusak. Akhirnya, bangsa Romawi kuno membuat solusi baru yaitu alat tukar yang bisa digunakan harus bernilai tinggi dan tahan lama. Disinilah lahir yang namanya koin emas.

 

Koin Emas dan Perak

Pada waktu itu logam seperti emas dan perak memang telah menjadi barang yang berharga dan disukai. Logam juga tidak mudah rusak. Sehingga dianggap cocok sebagai alat tukar walaupun jumlah emas dan perak itu terbatas. Penggunaan emas dan perak sebagai bahan untuk pembuatan uang dalam bentuk koin diciptakan oleh Croesus di Yunani sekitar 560-546 Sebelum Masehi.

Dalam perjalanannya selama beberapa ratus tahun, ternyata pembayaran dengan koin logam juga mengalami banyak masalah. Yang pertama adalah dari segi penyimpanannya. Orang-orang kaya pada masa itu merasa kesulitan untuk menyimpan uang mereka. Dan yang kedua adalah dalam kasus pembelian barang yang mahal akan dibutuhkan banyak sekali koin yang tentunya teramat merepotkan apabila membawa koin dalam jumlah yang sangat banyak, selain berat, mereka juga beresiko untuk dirampok.

 

Cikal-bakal Lahirnya Bank

Meskipun menemui banyak masalah dalam beberapa ratus tahun perjalanannya, uang kertas tidak serta-merta langsung hadir. Para pedagang emas di Inggris saat itu mengetahui permasalahan yang dialami oleh masyarakat dalam menyimpan uang logam mereka. Oleh karena itu, mereka menawarkan kepada masyarakat untuk menyimpan uang logam kepada mereka yang nantinya akan ditukar dengan sebuah kwitansi deposit.

Kertas-kertas kwitansi ini ternyata disukai oleh masyarakat karena mudah dibawa kemana-mana sehingga masyarakat mulai melakukan transaksi perdagangan menggunakan kwitansi ini. Mereka pun juga jarang mengambil deposit emas mereka dari para pedagang.

Melihat hal ini, para pedagang emas mengedarkan lebih banyak kwitansi daripada emas yang sebenarnya mereka miliki. Tidak ada yang menyadari hal tersebut. Inilah cikal bakal lahirnya Federal Reserve Banking dimana para pedagang emas bisa meminjamkan uang 10 kali lipat lebih banyak dalam bentuk kwitansi melebihi jumlah emas yang mereka miliki.

Cara ini membuat mereka bisa mengontrol perekonomian dengan cara memudahkan peminjaman uang agar jumlah uang yang beredar semakin banyak, kemudian menyulitkan peminjaman tersebut agar uang yang beredar bisa kembali, yang menyulitkan sebagian besar orang untuk membayar utang mereka.

Dengan begitu, orang yang terlilit utang akan dipaksa untuk menjual aset yang mereka miliki dengan harga yang rendah kepada pedagang emas.

Pada tahun 1688, para pedagang uang di Inggris bekerjasama dengan Belanda untuk melakukan invasi besar-besaran di Inggris yang di pimpin oleh William of Orange, dan pada tahun 1689, ia berhasil menjadi raja Inggris dengan nama Raja William III.

Perang yang telah berlangsung selama 50 tahun menelan biaya yang sangat besar. Pemerintah Inggris yang mulai kehabisan dana berusaha untuk meminjam uang dari para pedagang uang. Jumlahnya jika di kurskan adalah sebesar 1,25 juta Poundsterling pada saat itu dalam bentuk koin emas. Jumlah yang sangat besar pada saat itu. Mereka setuju untuk meminjamkan uang dengan syarat mereka diberi izin untuk membentuk sebuah bank sentral yang memiliki hak untuk menciptakan kredit. Nama bank tersebut adalah Bank of England.

 

Inflasi dan Riba

Hanya dalam waktu 4 tahun, pokok utang yang tadinya 1,25 juta Poundsterling meningkat menjadi 16 juta Poundsterling! Kenapa bisa seperti itu? Memang betul karena bunga dari pinjaman itu namun ternyata ada hal yang lebih besar yang sengaja dilakukan oleh bank sentral tersebut agar mendapat keuntungan besar. Mereka menciptakan inflasi! Disinilah bank mendapat keuntungan ganda.

Bagaimana cara mereka menciptakan inflasi? Seperti yang kita ketahui, semakin langka suatu barang maka nilainya akan semakin tinggi, sebaliknya semakin mudah barang tersebut didapatkan maka nilainya akan turun.

So, jika uang yang beredar pada suatu negara katakanlah 100 milyar rupiah, maka bank sentral akan menerbitkan uang sebesar 300 milyar rupiah namun dalam bentuk pinjaman. Hal itulah yang menyebabkan turunnya nilai uang dari 100 milyar tersebut. Seperti yang kita tahu, bank telah terlebih dahulu menetapkan bunga atau biasa disebut riba dari pinjaman tersebut karena mereka tahu bahwa mereka tidak mau rugi akibat inflasi dari hasil perbuatannya sendiri.

Dengan begitu, bank sentral tetap memegang kendali 75% sirkulasi uang di negara tersebut. Saat mereka merasa sudah cukup puas dengan tingkat utang dari masyarakat, mereka akan mulai mengetatkan suplai uang di masyarakat dengan mempersulit pinjaman.

Apakah kamu pernah meminjam uang dari bank atau perusahaan keuangan lainnya? Coba deh kamu hitung, rata-rata bunga yang mereka kenakan adalah 15-20 % setahun sedangkan inflasi rata-rata pertahun adalah 10%. Disini sudah terlihat jelas bahwa bank aman dari inflasi karena masih ada selisih keuntungan 5-10%. Dengan begitu, uang yang mereka pinjamkan sudah pasti aman dari penurunan ditambah adanya keuntungan yang mereka dapatkan. Itu kalau pinjam setahun? Kalau lebih gimana? Dengan asumsi tidak adanya kredit macet ya karena itu adalah musuh terbesar dari bank. Wah panjang yah! Dari barter sampai rumit begini.

 

Okay folks itulah dia sejarah dari terciptanya uang yang kita gunakan sampai hari ini. Semoga penjelasan diatas tidak membuat kamu bingung yah. Jika kamu merasa video ini bermanfaat, silahkan dibagikan dengan teman-teman atau keluargamu yah. Bagi kamu yang belum subscribe, yuk disubcribe folks supaya channel ini bisa lebih bermanfaat bagi kamu dan banyak orang. Makasih!